- Di kelas Kalkulus, j-8 UTS Kimia Dasar.
- Dosen: Ada yang tau anti-turunan linear artinya apa?
- Vannia: Sudut antar atomnya 180 derajat...
- Bileh: Jumlah pasangan elektron ikatan sama bebasnya sama-sama satu...
Orang-orang bilang, masa SMA adalah masa yang paling indah. Dulu sebelum jadi alumni (ciye), gue mikirnya, ah iya gitu? Indah itu kan subjektif. Masa iya semua orang bisa disamain secara garis besar menjadi satu kata begitu aja pengalaman tiga taunnya. Jangan-jangan karena tagline ini udah terlanjur eksis aja orang-orang jadi sok berpendapat begitu.
Lantas beberapa menit lalu iseng flashback tentang tiga taun ke belakang. Mencoba bikin satu paragraf singkat yang ngerangkum tiga taunnya gue SMA. Dan voila, baru bener-bener nyadar, ternyata tagline itu emang ga bohong. Ya, seenggaknya buat gue. Mulai dari seneng-senengnya, sedih-sedihnya, bahagia-bahagianya, terpuruk-terpuruknya, jaya-jayanya, jatuh-jatuhnya, cerianya, galaunya, in lovenya, blushingnya, desperatenya, brokenheartednya, hampanya, semangatnya, downnya, binalnya, solehnya, rebelnya, being somethingnya, labilnya, upside-downnya, dan segala macem tags lainnya yang ga mungkin dirinci satu-persatu; terlepas dari apakah selama tiga taun gue lebih banyak gembiranya ketimbang sedihnya atau sebaliknya, emang betul bahwa satu kata sederhana yang paling merangkum dengan tepat semua itu cuma si “indah” itu.
Mungkin seperti sebagian (atau kebanyakan?) kawan-kawan seperjuangan (termasuk, gue yakin, kakak-kakak dan adik-adik kelas) gue di Belitung Timur yang lain, awalnya gue masuk sini karena takut ga keterima di tetangga, Belitung B*rat. Tapi seperti mereka juga, pada akhirnya siapa sih yang nyesel pernah kecemplung di 5. Siapa sih yang kecewa ngabisin tiga taunnya nyasar di 5. Siapa sih yang dendam sama takdir karena pernah terjebak dan terjerembap di jurang menyenangkan ini. Gue sih nggak. Dan kayaknya mereka juga nggak, ya. Kalopun tiga taun lalu gue daftar ke tetangga dan diterima, seperti kata postingannya Wowo, siapa yang berani jamin bahwa hari ini, detik ini, saat ini, gue bakal sebahagia sekarang setelah ngabisin tiga taun terjebak di 5?
Kata sebuah akun Twitter alumni, 5 itu ibarat kita bayar buat sekolah, tapi dapet bonus keluarga. Ya, gue emang bukan seorang extrovert gaul yang pernah ngobrol sama semua anak seangkatan. Gue bukan cewek dengan peta pergaulan fleksibel yang obrolannya nyambung sama semua lapisan. Gue nggak se-sociable mereka-mereka yang tiap lagi jalan sibuk sapa-menyapa semeter sekali. Tapi at least, gue beruntung punya teman dekat yang alhamdulillah tidak sedikit plus dua super besties yang sering dibilang partner lesbi atau Charlie’s Angels bertiga gue. Dan beruntungnya, hubungan gue dengan orang-orang selama SMA meskipun ga selalu mulus baik tapi rasanya selalu asik. Dari yang paling binal sampe yang paling soleh, yang paling rajin sampe yang paling males, yang paling extrovert sampe yang paling introvert, yang paling sanguinis sampe yang paling melankolis, yang paling kocak sampe yang paling gabisa diajak konyol-konyolan, punya teman-teman random tanpa satu lingkaran pembatas khusus adalah salah satu hal yang paling gue syukurin selama SMA. Dan iya, gue ga merasa terpaksa manakala menyebut mereka keluarga.
So far, masa SMA emang masa yang paling indah, gue setuju. When freedom meets limitation, we don’t only stay in silence but we try to break it. We make mistakes, we do sins, we experience everything bravely, we dare to take risks, and we aren’t ashamed for doing things wrong. Gatau kalau menurut kalian, tapi kalo kata gue sih itu alasan utama kenapa tagline SMA-identik-dengan-indah ini ada.
#np WSATCC - Masa Remadja.
Ah, SMA, SMA. Siapa sih yang ga bakal kangen kamu pada akhirnya?
*
Anyway, ini tuh draft dari kapan ya… Baru kepublish sekarang. HA. Ka? Ngen.
Saat taplok menjalani takdirnya sebagai makhluk… terbully. Hahaha kangen naplok (ambigu) nih!
Kangen 96 sayang jugaaa ♥
Pose foto ter-fail aku sepanjang taun 2011… ;_;
3 notes
10 years ago
Reblog
Ternyata bohong yang gue bilang mau posting tentang sesuatu di MSK berbulan2 setelah 24 Juni kemarin. Sederhana aja alasannya, kalo ibarat mpup ini tuh udah kecepirit. Akhirnya dipublish juga… yaudalah toh sekedar nambahin satu postingan di antara ratusan postingan saya ngga berefek luar biasa kan, ya.
Kalau ada satu lagu yang pengen gue nyanyiin di MSK kemarin, (selain Friday-nya Rebecca Black karena hari itu hari Jumat, tapi sayangnya ga kesampean karena lupa dan jujur ini sedih dan nyesel bangetbangetbanget) maka lagu itu adalah Story of Us-nya Taylor Swift. Entah ada hubungan batin apa sama Taylor Swift atau siapapun yang nyiptain lirik lagu itu, tapi setiap baris kalimatnya bener2 soundtrack saya banget ketika itu.
Now I’m standing alone in a crowded room and we’re not speaking,
And I’m dying to know is it killing you like it’s killing me, yeah.
Jadi sepanjang acara, errr ralat sebetulnya dari sebelum acara, kepikiran sesuatu. Ga berani cerita ke orang lain, siapapun, even my closest best friends. Kalo kata Hollywood Nobody, ini tuh Secret Nobody Knows. Ga berani karena… malu. Iya. Malu. Rasanya ini adalah beban pikiran terrandom yang pernah gue pikirin selama beberapa taun terakhir. Terus dipendem. Kadang ada sih yang dengan sama randomnya nyepet2 usil tentang itu, tapi gue tanggepin dengan leyeh2 dan kayak yang yaudahsih-penting-banget-gela. Padahal dalem hati…
Kenapa kepikiran, karena gue tau, MSK adalah momen penyelamat. Ketika semua orang kembali ke hakikat jadi mahluk sosial. Ketika ngobrol, foto bareng, adalah kegiatan utama. Ketika kita punya banyak alasan untuk berinteraksi. Ketika semua bener-bener harus ditutup dengan indah pada akhirnya.
Tapi dengan bodohnya sepanjang acara pula gada effort yang gue tunjukkin demi melaksanakan si beban pikiran itu. Yaudalah, gue mikirnya terjadi syukur, kaga yaudah. Masih banyak waktu. For any reason, it is not a proper place to put a dot because it is not the end of the sentence. Gue pengen ini terjadi ketika MSK pun sekedar beralasan bahwa MSK adalah malam paling bersejarah sepanjang SMA. Kalopun ga terjadi saat itu, yaudalah MSK tetep bersejarah kok. Tapi tiba2 ketika kita tiba di penghujung acara dan semua orang mulai meninggalkan ballroom hotel;
Terjadilah. Dengan kuasa Tuhan Yang Mahabesar, Allah swt. Dang. Sangat tiba2 dan ga direncanain bakal kaya gini prosesnya. Kaget. Awkward. Aneh. Tapi leganya kayak apa. Sisanya gamau cerita disini, biar semuanya saya sendiri yang simpen. Yaa kata tweet saya juga:

Oh. Dan sebagai bonus kali ya, terjadi hal yang lain. Yang sempet kepikiran selama berbulan2 lalu tapi menguap begitu aja, tiba2 terjadi dengan sangat tiba2, totally unplanned moment. Sederhana banget, tapi… seenggaknya, momen itu ada.
Tapi ada satu pertanyaan yang ketinggalan: kenapa itu semua harus terjadi di closing?

Dan bersamaan dengan mobil Babeh yang udah diparkir di depan Homann, tumit yang disangga 9 cm dari tanah yang semakin pegal, henna di lengan yang kian memudar, malam itu pun usai.
Gabisa menyimpulkan apakah ending ini adalah klimaks atau malah antiklimaks. Mengutip tweet saya yang lain,

Terakhir, terima kasih banyak untuk MSK yang berkesan, dan ‘itu’ yang bikin yang berkesan menjadi lebih dan semakin berkesan. :-)
So many things that you wished I knew,
But the story of us might be ending soon...
1.30 am. Been home since 22 minutes ago. Totally exhausted, but not in the mood to sleep. Decided to type.
Yak, malam ini adalah kelanjutan rangkaian Blabla-Syukuran-Kelulusan SMAN 5 Bandung 2011 episode dua sekaligus terakhir, yakni jengjeeeeeng Malam Syukuran Kelulusan V’11! Setelah kemarinnya dianugerahi medali dan ijazah beserta map baru di Pagi Syukuran Kelulusan, hari ini MSK menutup rangkaian official school’s farewell party ini dengan…
Gatau. Bingung. Kebanyakan. Tapi setelah terlalu banyak kata yang bergumul di otak, diputuskan bahwa satu kata yang mewakili semuanya adalah… ‘berkesan.’ Iya, cuma satu kata itu yang paling pas rasanya. Mau dibilang indah, tapi pegel akibat heels 9 cm itu ga indah juga; mau dibilang menyenangkan, tapi pulang tanpa after parteh karena udah dijemput ortu itu ga menyenangkan juga; jadi ya berkesanlah yang paling pantes buat mewakili semuanya.
Oke, saya bukan mau review tentang MSK seluruhnya kok. Cuma mau mengulas beberapa poin random yang terjadi kemarin.
Kata Aris pas renungan, besok2 kita udah ga kumpul seangkatan lagi, besok2 semuanya udah sibuk sama urusan masing2. Bener, sih. Tapi kenapa timing-nya pas banget. Senin, yang artinya lusa, udah memulai satu fase sederhana yang baru, tapi jadi penanda besar tentang perpisahan dengan Belitung Timur. Senin, bangun pagi lalu pergi untuk belajar ke tempat yang beda. Bukan ke Belitung 8 lagi. Bukan ke gedung Belanda bercat kuning-ijo lagi. Bukan buat ketemu sama temen2 itu lagi. Bukan buat diajarin sama beliau2 itu lagi. Bukan naik angkot Sadang Serang lagi. Bukan pake seragam plus atribut resmi lagi. Dan ini baru ngeh banget tadi. Sumpah MSK tanggal segini emang udah paling tepat banget timingnya.
Pas nyanyi hymne dan renungan, sejujurnya saya ga nangis; bener2 deh ngeliat orang2 lain banjir air mata sementara mata saya kering kerontang jadi merasa gapunya hati. Gatau emang sayanya yang belum bener2 ngeh bahwa this is the final farewell. Padahal jelas2 kapan lagi kita mau duduk bareng di bangku kayu bercoret2 pulpen dan tip-x di gedung Belanda tua bercat kuning-ijo di jalan Belitung 8 sisi timur? Ga ngerti juga sih kenapa, mungkin karena saya duduk diapit teman lesbi tiga taun dari sejak MPLS sampe sekarang MSK, Suti dan Upeh, yang dua2nya ngga pada nangis juga -_- jadi yang terlintas adalah tentang kita bertiga yang besok2 masih ketemu lagi, masih bakal main bareng, karaoke, jalan, dan lain-lain. And this ain’t farewell for three of us. Lagipula sedih ga harus ditunjukkan dengan air mata, kan? Ya gatau deh kalo saya sedih sama nangisnya baru besok2 karena baru konek udah berlabel alumni dan pisah sama semua komponen Belitung Timur. Kita lihat aja nanti.
Sebenernya pengen cerita tentang yang lain tapi… malu (tjie). Jadi ntar aja, deh. Berbulan2 setelah hari ini, setelah semua anak udah ga dijejali pikiran dan kenangan pasca MSK, nanti baru saya posting.
Tapi jujur deh kalo tiba2 ada yang nanya, what was your best MSK memory? Saya pengen jawab satu hal ‘itu’. Dan ini nggak saya ceritain sama siapapun, even to my closest best friends.
Yak, endingnya antiklimaks dan melenceng dari topik sebelumnya. Maaf. Kesimpulannya, terima kasih untuk malam paling berkesan selama SMA, #belitungtimur! :-)
