of Nabilah Adani
—and what's hers and so forth.

Hi there."Tryst" of N & A. Leave footraces.
« / »
Setelah delapan belas tahun…

….dua ribu sebelas adalah tahun terbaik gue sejauh ini. Nggak, kok, gue gak mengulang kalimat ini setiap pergantian tahun. Terakhir gue ngomong kayak gini adalah di penghujung 2008. Dan sekarang, maaf ya, kedudukan kamu udah digeser sama si 2011. :-)

Enam belas dari sembilan puluh satu hal di daftar Things-To-Do-Before-I-Die versi Nabilah Adani pun udah berhasil gue tuntaskan tahun ini. Seventy five more to go! Hap hap!

2011 itu…

Dari mulai jadi alumni Belitung Timur. Lantas jadi warga baru di jalan Ganeca. Ketemu dan kenal sama 286 orang2 baru yang super ini. Si Bleki jadi anggota keluarga baru di rumah (FYI, dia benda elektronik, bukan anjing pelacak), si Putih juga akhirnya jadi kawan baru gue (FYI nomor dua, dia bukan kucing rumahan, dia juga barang elektronik). Memulai kehidupan di lingkaran baru bernama dunia perkuliahan. Menarik diri ke dalam randomnya kehidupan yang gue bentuk di lingkungan baru ini. Untuk pertama kalinya dibikinin lagu sama seseorang *uhuk. Ganti model rambut dan memotong sekitar 30 cm rambut lama gue. Ke Trans Studio Bandung juga (akhirnya). Ulang tahun di tanggal cantik (sekaligus mengalami hari yang cantik, terima kasih). Dan lain-lain. Hal-hal kecil yang super banyak dan menyenangkan sekali tapi kalau dirinci disini… nyampah. Fufu.

Mungkin, mirip seperti 2008, 2011 juga gue bilang tahun terbaik karena ada fase lingkungan baru di dalamnya.

Oke, untuk menutup dan mengenang 2011, gue mau mengucapkan terima kasih buat… semesta. Dan tentunya, Tuhan yang masih mengizinkan gue buat melewati tahun yang whoa! ini.

Oh, satu lagi, ding. Because this year won’t be this randomly funny without you, A-nyway. :-)

grayskymorning:
“ (via sweethomestyle)
”
Kalau punya kamar kayak gini…
Super fixed bakal 9284738929103 kali lebih (hobi ng)ansos dari sekarang.
thedailywhat:
“ Facebook Ragefaces of the Day: One entrepreneurial Redditor recently came across the revelation that ragefaces can be employed in Facebook chat in lieu of boring old emoticons.
Redditor Soulholder explains:
“ These work by referencing...
(13/12/11) Even Facebook knows what we really are now.
And right post, right time.
Since Wishing is Not A Sin, Then…

Whoa. Lama ga spamming di Tumblr!

Ceritanya, semacam sok sibuk gitu kemarin2. Ceritanya, masih adaptasi sama transisi dari SMA ke kuliah (yang mana di 5 adalah gapernah belajar, super gabut, super selow, dan di kampus ini kurang-lebih tiap hari belajarnya serasa mau nyiapin SNMPTN tulis). Dan biasanya mosting itu nagih, makanya maksain diri buat hiatus biar si rutinitas2 baru ga keganggu sama ke-kebelet-an pengen posting.

Btw, ini h-4. Menuju sesuatu.

Let me have a short flashback about 13th of December, selama tiga tahun terakhir.

13 Desember 2008: Best birthday acting, ever. Ceritanya kamera gue ilang selama dua hari, terus temen2 malah jadi saling tuduh gitu, dan akhirnya pada berantem, dan kesannya itu semua terjadi gara2 gue. Nangis hebat banget parah gara2 itu. Endingnya nangis terharunya lebih hebat lagi.

13 Desember 2009: Tiba2 didatengin dua bocah tengil di siang bolong bawa black forest. Lifetime bestfriends, Suti dan Upeh. Padahal mereka cuma pernah sekali ke rumah gue, dan rumah gue mencilnya udah ga ngerti lagi. Terharu banget masih inget cara buat kesini…

13 Desember 2010: Tokyo, Jepang. Kamar hotel yang jendelanya super lebar dan langsung menghadap rainbow bridge. Surprise di bus dari anak2 Aussie, Thailand, Malay, Filipin, India, dan Amrik chapter Morioka. Selebrasi kecil2an di ruang makan di sebuah rumah di Mitake street, Morioka. Last day spent with host fam. Ngerayain ultah ke-17 sama orang2 yang sangat baru kenal seminggu. Dan KANGEN BANGET PARAH STADIUM KRONIS.

Lalu dalam hitungan hari, akan datanglah si 13-12-11. Jreng.

Mungkin bakal banyak yang jadian, tunangan, lamaran, atau bahkan nikah di tanggal segitu soalnya tanggalnya cantik. So what ga peduli juga, sih. Anyway, ada satu hal sederhana yang gue pengenin banget buat terjadi di tanggal itu. Tapi saking sederhananya, gue ga yakin2 amat ini bisa terkabul.

image

Hm. Dan tentu aja, ini bukan masalah ‘apa’-nya, tapi ‘siapa’-nya.

Hi there, Mr. He-Who-Mustn’t-Be-Named. Delapan puluh delapan jam itu… lumayan lama juga ya, ternyata.

Apa kabar? Gimana ujian? Sukses dan semangat ya, buat hari ini, Godspeed! Makan siang bareng gak? Mau nawarin nganter balik gak? Temenin begadang lagi, yuk! Sebagian dari kalimat2 yang malah diterima sama si tembok raksasa, gara2 dia berdiri di tengah2 kita sekarang.

Bukan gue gamau breaking the ice first. Gue sangat mau. Gue juga bisa aja. Gue dengan senang hati bakal mengerjakan juga seandainya diijinin. Tapi gak siap aja kalau harus jadi pihak yang ngerasa bersalah (lagi) gara2 disambut (lagi) sama kalimat: “Tuh kan jadi keingetan lagi.” “Harusnya ga usah aja gapapa.” “Sebenernya maunya apa, sih.” Tau nggak, gue sih sejujurnya sirik sama mereka yang pernah ngelewatin fase ini, dan masih bisa stay mature. Sementara sejujurnya, maaf tapi kita kok kayak anak SMP baru mau beger, ya.

Pertanyaan beberapa hari yang lalu masih berlaku gak, yang tentang si h-4 ini? Kemarin2 gue jawabnya ngasal mulu, kan. Tapi kalau hari ini ditanyain lagi, jawabannya sih, itu.

Anyway, I know reading isn’t your stuff. Jadi kemungkinan kecil ini bakal dibaca sama si objek. Ha-ha. Yaudalah, a date is just a number. So a day is also just as ordinary as days before. Jadi nggak ada hal apapun yang wajib terjadi di hari itu, kan?

Tapi, yah… mari sekedar berharap ini dibaca, tapi gak usah sampe berdoa. Selamat malam, salam… dari teman lama. #ups

P.s.: Kangen itu nggak berarti galau, kok. :-)